Jumat, 28 September 2012

asuhan kebidanan pada ibu hamil, bersalin, dan nifas


BAB I
PENDAHULUAN


A.    LATAR BELAKANG
Dalam ruang lingkup kebidanan, seperti permasalahan kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, keluarga berencana kesehatan reproduksi wanita dan pelayanan kesehatan masyarakat sangat diperlukan seorang bidan yang berkompeten untuk menangani masalah-masalah tersebut. Maka dari itu, diperlukan pelayanan yang bersifat khusus berupa asuhan kebidanan.
 Asuhan kebidanan adalah penerapan fungsi, kegiatan, dan tanggungjawab bidan dalam pelayanan yang di berikan kepada klien yang memiliki butuhan dan atau masalah kebidanan (kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, keluarga berencana, kesehatan reproduksi wanita, dan pelayanan kesehatan masyarakat).
Di dalam penulisan makalah ini, penulis menjabarkan tentang asuhan kebidanan yang penulis khususkan pada ibu hamil, ibu bersalin, dan ibu nifas. Sehingga makalah ini dapat dijadikan sebagai acuan belajar baik untuk penulis maupun orang lain.

B.     TUJUAN
Mengetahui definisi asuhan kebidanan (ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas) dan macam-macam asuhan kebidanan. Tujuan asuhan kebidanan yaitu:
1.         Menjamin kepuasan dan keselamatan ibu dan bayinya sepanjang siklus reproduksi
2.         Mewujudkan keluarga bahagia dan berkualitas melalui pemberdayaan perempuan dan keluarganya dengan menunjukkan rasa percaya diri.



C.    MANFAAT
Mengerti definisi asuhan kebidanan secara umum dan asuhan kebidanan secara khusus beserta tujuannya serta dapat dipelajari dan diterapkan.


BAB II
ISI



A.       ASUHAN KEBIDANAN
Asuhan adalah bantuan yang diberikan oleh bidan kepada individu, klien (Depkes, 1996:3).
Kebidanan adalah bentuk pelayanan kesehatan yang komperhensif dan karakteristik berdasarkan ilmu dan seni kebidanan yang ditujukan pada wanita atau khususnya dalam masa prakonsepsi, masa kehamilan, masa nifas dan bayi baru lahir, upaya masa interval dengan upaya promotif, preventative dan rahabilitatif baik secara individu, keluarga, kelompok masyarakat sesuai wewenang, tanggung jawab dan kode etik profesi bidan (Sumarto, 1995 : 16).
Asuhan kebidanan adalah bantuan yang diberikan berdasarkan ilmu kebidanan pada wanita sesuai wewenang dan tanggung jawab seorang bidan.

B.        MACAM MACAM ASUHAN KEBIDANAN
1.   Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil
a.   Definisi
Kehamilan merupakan suatu proses alamiah dan fisiologis. Setiap wanita yang memiliki organ reproduksi sehat, yang telah mengalami menstruasi, dan melakukan hubungan seksual dengan seorang pria yang organ reproduksinya sehat sangat besar kemungkinannya akan mengalami kehamilan. Selama pertumbuhan dan perkembangan kehamilan dari bulan ke bulan diperlukan kemampuan seorang ibu hamil untuk beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada fisik dan mentalnya.
Semua perubahan fisik pada ibu mengakibatkan terjainya perubahan psikis berupa rasa tidak percaya diri terhadap penampilan dirinya. Pada masa ini, ada ibu yang ,merasa enggan berpergian, bahkan ada yang sampai menarik diri dari aktivitas kehidupan social sebagai seorang ibu. Untuk mengantisipasi supaya dampak-dampak negative seperti yang dipaparkan di atas tidak terjadi terlalu berat pada ibu, dan untuk mengantisipasi supaya persalinan berlangsung aman dan tidak terjadi trauma terlalu berat, baik terhadap ibu maupun janin, ibu hamil perlu diberi asuhan kehamilan.
Semakin bertambah usia kehamilan, akan mengakibatkan bentuk tubuh ibu berubah yang semula langsing menjadi tidak langsing lagi. Buah dada mulai membesar, pembulih-pembuluh darah pada perut tampak biru, perut semakin menonjol kedepan.
Asuhan ibu hamil oleh bidan dilakukan dengan cara mengumpulkan data,menetapkan diagnosis dan rencana tindakan, serta melaksanakannya untuk menjamin keamanan dan kepuasan serta kesejahteraan ibu dan janin selama periode kehamilan.

b.   Tujuan
1.      Mempromosikan dan menjaga kesehatan fisik dan mental ibu dan bayi dengan memberikan pendidikan gizi, kebersihan diri dan proses kelahiran bayi.
2.      Mendeteksi dan menatalaksana komplikasi medis, bedah ataupun obstetric selama kehamilan
3.      Mengembangkan persiapan persalinan serta rencana kesiagaan menghadapi komplikasi
4.      Membantu menyiapkan ibu untuk menyusui dengan sukses, menjalankan puer perium normal, dan merawat anak secara fisik, psikologis, dan social.

c.    Langkah langkah
Proses manajemen kebidanan menurut varney  terdiri dari 7 langkah yang harus dilaksanakan secara brurutan,dan secara periodic perlu di ulang-ulang sesuai dengan kondisi ibu hamil yang diberi asuhan.Penerapan 7 langkah manajemen menurut varney dalam member asuhan kebidanan pada ibu hamil secara sistematis adalah sebagai berikut:


1.         Mengumpulkan data dasar
Jenis data yang dikumpulkan adalah :
a.    Data Subjektif terdiri dari :
1)      Biodata ibu dan suami
2)      Alasan ibu memeriksakan diri
3)      Riwayat kehamilan sekarang
4)      Riwayat kebidanan yang lalu
5)      Riwayat menstruasi
6)      Riwayat pemakaian alat kontrasepsi
7)      Riwayat kesehatan
8)      Riwayat bio-psikososial-spiritual
9.   Pengatahuan ibu tentang tanda  bahaya kehamilan
b.   Data objektif terdiri dari :
1.      Hasil pemeriksaan umum (tinggi badan,berat badan,lingkar lengan,suhu,nadi,tekanan darah,pernafasan)
2.      Hasil pemeriksaan kepala dan leher
3.      Hasil pemeriksaan tangan dan kaki
4.      Hasil pemeriksaan payudara
5.      Hasil pemeriksaan abdomen
6.      Hasil pemeriksaan denyut jantung janin (DJJ)
7.      Hasil pemeriksaan darah dan urine
2.         Menginterpretasikan atau menganalisis data
Pada langkah ini data subjektif dan data objektif yang dikaji di analisis menggunakan teiri fisiologis dan patologis,sesuai dengan perkembangan kehamilan berdasarkan umur kehamilan itu pada saat diberi asuhan,termasuk teori tatang kebutuhan fisik dan psikologis ibu hamil.Hasil analisis dan interpretasi data menghasilkan rumusab diagnosis kehamilan.
Selanjutnya,rumuskan masalah yang terjadi sesuai dengan kondisi ibu saat diberi asuhan. Masalah juga merupakan suatu kondisi yang tidak sesuai dengan perkembangan fisiologis kehamilan, adaptasi ibu yang tidak positif terhadap kehamilan.
3.      Merumuskan diagnosis atau masalah potensial, dan tindakan segera sebagai antisipasinya
Menetapkan perlunya tindakan segera dan melaksanakannya berdasarkan masalah potensial yang dirumuskannya. Tindakan segera bisa meruapakan interfensi langsung oleh bidan maupun kolaborasi dengan profesi lain.
4.      Mengidentifikasi dan Menetapkan Kebutuhan yang Memerlukan Penanganan segera
Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan/atau untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai kondisi klien.
Langkah keempat mencerminkan kesinambunagan dari proses manajemen kebidanan. Jadi manajemen bukan hanya selama asuhan primer periodik atau kunjungan prenatal saja, tetapi juga selama wanita tersebut bersama bidan terus menerus, misalnya pada waktu wanita tersebut dalam persalinan.
Data baru mungkin saja perlu dikumpulkan dan dievaluasi. Beberapa data mungkin mengindikasikan situasi yang gawat dimana bidan harus bertindak segera untuk kepentingan keselamatan jiwa ibu atau anak (misalnya, perdarahan kala III atau perdarahan segera setelah lahir, distocia bahu, atau nilai APGAR yang rendah).
Dari data yang dikumpulkan dapat menunjukan satu situasi yang memerlukan tindakan segera sementara yang lain harus menunggu
5.      Menyusun rencana asuhan yang menyeluruh
Rencana asuhan yang menyeluruh mengacu pada diagnosis, masalah asuhan serta kebutuhan yang telah sesuai dengan kondisi client.
 Sebagai contoh memberikan penyuluhan kepada ibu terhadap kebutuhan ibu hamil.
6.      Melaksanakan asuhan sesuai perencanaan secara efisien dan aman
Pelaksanaan rencana asuhan bias dilaksanakan oleh bidan langsung, bias juga dengan memperdayakan ibu. Misalnya pada rencana asuhan. Diatas, setelah ibu mendapat layanan konseling dari biadan tentang cara menghindarkan diri dari kontak dengan asap rokok, dibuat kesepakatan tentang cara/tindakan yang digunakan. Setelah ibu melaksanakan hasilnya dievaluasi oleh bidan.
7.      Melaksanakan evaluasi terhadap rencana asuhan yang dilaksanakan.
Evaluasi ditunjukan terhadap efektifitas interfensi tentang kemuingkinan pemecahan masalah, mengacu pada perbaikan kondisi, kesehatan ibu dan janin. Evaluasi mencangkup jangka pendek, yaitu sesaat setelah interfensi dilakasanakan, dan jangka pendek, yaitu menungu  proses sampai kunjungan berikutnya/kunjungan ulang.

d.   Konsep dasar
Kunjungan antenatal sebaiknya dilakukan paling sedikit 4 kali selama kehamilan,
a.       Satu kali pada triwulan pertama
b.      Satu kali pada triwulan kedua
c.       Dua kali pada triwulan ketiga
Pelayanan atau asuhan standar minimaltermasuk “7T”:
a.       Timbang berat badan
b.      Ukur (Tekanan) darah
c.       Ukur (Tinggi) fundus uteri
d.      Pembeian imunisaasi (Tetanus Tiksoid) TT lengkap
e.       Pemberian Tablet zat besi, minimum 90 tablet selama kehamilan
f.       Tes terhadap penyakit menular seksual
g.      Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan
Pelayanan atau asuhan antenatal inihanya dapat diberikanoleh tenaga kesehatan professional dan tidak dapat diberikan oleh dukun bayi.


2.   Asuhan Kebidanan Pada ibu bersalin
a.      Definisi
Persalinan dan kelahiran merupakan kejadian fisiologis yang normal dalam kehidupan. Kelahiran seorang bayi juga merupakan peristiwa social bagi ibu dan keluarga. Dalam hal ini peranan petugas kesehatan tidak kalah penting dalam memberikan bantuan dan dukungan pada ibuagar seluruh rangkaian proses persalinan berlangsung dengan aman dan baik bagi ibu maupun bagi bayi yang dilahirkan.

b.      Tujuan
Memberikan asuhan yang memadai selama persalinan dalam upaya mencapai pertolongan persalinan yang bersih dan aman, dengan memperhatikan aspek saying ibu dan sayang bayi.

c.       Langkah-langkah
Persalinan dibagi dalam 4 kala, yaitu:
1)      Kala I yaitu, dimulai dari saat persalinan mulai sampai pembukaan lengkap (10 cm). proses ini terbagi dalam 2 fase, fase laten (8 jam) serviks membuka sampai 3 cm dan fase aktif (7 jam) serviks membuka dari 3 sampai 10 cm.
Tindakan yang dilakukan:
a)         Menghadirkan orang yang dianggap penting oleh ibu seperti suami, keluarga atau teman dekat.
b)         Mengatur aktivitas dan posisi ibu
c)         Membumbing ibu untuk rileks saat ada his
d)        Menjelaskan tenteng kemajuan persalinan
e)         Menjaga kebersihan diri
f)          Mengatasi rasa panas
g)         Masase
h)         Pemberian cukup minum
i)           Mempertahankan kandung kemih tetap kosong
j)           sentuhan
2)      Kala II yaitu,dimulai dari pembukaan lengkap (10 cm) sampai bayi lahir. Proses ini biasanya berlangsung 2 jam pada primi dan 1 jam pada multi. Seorang bidan harus mendukung ibu atas usahanya untuk melahirkan bayinya. Berikut adalah tindakan atau penanganan yang dilakukan selama persalinan (kala II):
a)         Memberikan dukungan terus menerus kepada ibu
Menghadirkan seseorang untuk menyemangati, memberi minum, mengipasi atau memijat ibu
b)         Menjaga kebersihan diri
Bersihkan cairan yang ada untuk menghindari infeksi pada ibu
c)         Mengipasi dan masase
Menambah kenyamanan bagi ibu
d)        Memberikan dukungan mental
Mngurangi kecemasan ibu dengan cara:
1)         Menjaga privasi ibu
2)         Penjelasan tentang proses dan kemajuan persalinan
3)         Penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan dan keterlibatan ibu
e)         Mengatur posisi ibu
f)          Menjaga kandung kemih tetap kosong
g)         Memberikan cukup minum
h)         Memimpin mengedan
i)           Bernafas selama persalinan
j)           Pemantauan denyut jantung janin
k)         Membantu melahirkan bayi:
1)         Menolong kelahiran kepala
2)         Periksa tali pusat
3)         Melahirkan bahu dan anggota seluruhnya
l)           Bayi dikeringkan dan dihangatkan dari kepala sampai seluruh tubuh
m)       Merangsang bayi
3)      Kala III yaitu: Dimulai segera setelah bayi lahir sampai lahirnya plasenta, yang berlangsung tidak lebih dari 30 menit.
Tidakan:
a)      Jepit dan gunting tali pusat sedini mungkin
b)      Memberikan oksitosin
c)      Melakukan penegangan tali pusat terkendali atau PTT (CTT/Centroled Cord Traction)
d)     Masase fundus
4)      Kala IV yaitu: dimulai saat lahirnya plasenta sampai 2 jam pertama post partum. Masa post partum merupakan saat paling kritis untuk mencegah kematian ibu terutama kematian yang diakibatkan karena pendarahan. Tindakan pemeriksaan:
a)      Fundus: rasakan apakah fundus berkontraksi kuat dan berada di atau dibawah umbilicus.
·         Setiap 15 menit pada jam pertama setelah persalinan
·         Setiap 30 menit pada jam kedua setelah persalinan
·         Masase fundus jika perlu untuk menimbulkan kontraksi
b)      Plasenta: periksa kelengkapannya untuk memastikan tidak ada bagian-bagian yang tersisa dalam uterus
c)      Selaput ketuban: periksa kelengkapannya untuk memastikan tidak ada bagian-bagian yang tersisa dalam uterus
d)     Perineum: periksa luka robekan pada perineum dan vaginayang membutuhkan jahitan
e)      Memperkirakan pengeluaran darah
f)       Lochia: periksa apakah ada darah keluar langsung. Jika lochia berkontraksi kuat, lochia kemungkinan tidak lebih dari menstruasi.
g)      Kandung kemih: pastikan kandung kemih tidak terisi penuh. Kandung kemih yang terisi penuh akan membuat uterus naik keatas dan menyebabkan tidak berkontraksi kuat.
h)      Kondisi ibu: apabila kondisi ibu tidak stabil, pantau terus kondisinya dan penuhi apa yang ibu inginkan.
i)        Kondisi bayi baru lahir: pastikan kondisi bayi sehat.
Asuhan bidan:
a)      Ikat tali pusat
b)      Pemeriksaan fundus dan masase
c)      Nutrisi dan hidrasi
d)     Bersihkan ibu
e)      Istirahat
f)       Peningkatan hubungan ibu dan bayi
Biarkan bayi pada ibu untuk meningkatkan hubungan ibu dengan bayi.
g)      Memulai menyusui
Bayi sangat siap segera saat dilahirkan. Hal ini sangat tepat untuk mulai memberikan asi. Menyusui juga membantu uterus berkontraksi.
h)      Menolong ibu ke kamar mandi
Pastikan ibu telah buang air kecil dalam 3 jam selama postpartum
i)        Mengajari ibu dan anggota keluarga
Beri tahu pada ibudan keluarga bagaimana memeriksa fundus dan menimbulkan kontraksi dan tanda-tanda bahaya bagi ibu dan bayi.
d.      Konsep dasar
Kebijakan pelayanan asuhan ibu bersalin:
1.      Semua persalinan harus dihadiri atau dipantau oleh petugas kesehatan terlatih
2.      Rumah bersalin dan tempat rujukan dengan fasilitas memadai untuk menangani kegawatdaruratan obstetric dan neonatal harus tersedia 24 jam
3.      Obat-obatan essensial, bahan dan perlengkapan harustersedia bagi seluruh petugas terlatih





3.   Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas
a.      Definisi
Asuhan ibu nifas oleh bidan dilakukan dengan cara mengumpulkan data, menetapkan diagnosis dan rencana tindakan, serta melaksanakannya untuk mempercepat proses pemulihan dan mencegah komplikasi dengan memenuhi kebutuhan ibu dan bayi selama periode nifas.
Peran bidan pada hal ini:
1.      Membantu menciptkan terjadinya ikatan antara ibu dan bayinya dalam jam pertama sesudah kelahiran.
2.      Memberikan dorongn pada ibu dan kelurga untuk memberikan respon positif terhadap bayinya, baik melalui sikap maupun ucapan dan tindakan.

b.      Tujuan
Tujuan asuhan masa nifas merupakn semua kegiatan yang dilakukan, baik dalam bidang kebidanan maupun dibidang lain selalu mempunyai tujuan agar kegiatan tersebut terarah dan diadakan evaluasi dan penilaian. Tujuan dari perawatan nifas ini adalah:
1.   Memulihkan kesehatan umum penderita
a.       Menyediakan makanan sesuai kebutuhan
b.      Mengatasi anemia
c.       Mencegah infeksi dengan memerhatikan kebersihan dan sterilisasi
d.      Mengembalikan kesehatan umum dengan pergerakan otot untuk memperlancar peredaran darah
2.   Mempertahankan kesehatan psikologis
3.   Mencegah infeksi dan komplikasi
4.   Memperlancar pembentukan air susu ibu (ASI)
5.   Mengajarkan ibu untuk melaksanakan perawatan mandiri sampai masa nifas selesai dan memelihara bayi dengan bak, sehingga bayi dapat mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang normal.



c.       Langkah-langkah
Tidakan asuhan masa nifas pada ibu:
1.      kebersihan diri:
·         anjurkan kebersihan seluruh tubuh
·         mengajarkan ibu bagaimana membersihkan darah kelamin dengan sabun dan air
·         sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut minimal dua kali sehari
·         jika ibu mempunyai luka episiotemi, sarankan ibu untuk menghindari menyentuh luka.
2.      Istirahat
·         Anjurkan ibu untuk istirahat cukup
·         Sarankan ibu untuk kembali ke kegiatan-kegiatan rumah tangga biasa dan tidur siang atau beristirahan selagi bayi sedang tidur.
3.      Latihan
4.      Gizi
5.      Perawatan payudara
6.      Hubungan perkawinanatau rumah tangga
7.      Keluarga berencana:
Jelaskan kepada ibu dan pasangan beberapa metoda KB seperti bagaimana kinerja dari metoda KB, kelebihan dan kekurangannya, efek samping, penggunaan dan waktu efektif untuk penggunaan metoda tersebut.

d.    Konsep dasar
Standar pelayanan nifas:
1.      Perawatan bayi baru lahir
Bidan  memeriksa dan menilai bayi baru lahir untuk memastikan pernafasan spontan, mencegah hipoksia sekunder, menemukan kelainan, dan melekukan tindakan atau merujuk sesuai kebutuhan. Bidan juga harus mencegah atau menangani hipotermia.
2.      Penanganan pada dua jam pertama setelah persalinan
Bidan melakukan pemantauan pada ibu dan bayi terhadap terjadinya komplikasi dalam dua jam setelah persalinan, serta melakukan tindakan yang diperlukan.
3.      Pelayanan bagi ibu dan bayi pada masa nifas
Bidan memberikan pelayanan selama masa nifas melalui kunjungan rumah pada hari ketiga, minggu kedua, dan minggu keenam setelah persalinan untuk membantu proses pemulihan ibu dan bayi melalui penanganan tali pusat yang benar, penemusn dini, penanganan, atau perujukan komplikasi yang mungkin terjadi pada masa nifas, serta memberikan penjelasan tentang kesehatan secara umum, kebersihan perorangan, makanan bergizi, perawatan bayi baru lahir, pemberian asi, imunisasi, dan KB.
Normalnya, ibu nifas akan mengalami beberapa tanda dan gejala berikut:
1.      Lelah dan sulit tidur
2.      Adanya tanda infeksi puerperalis(demam)
3.      Nyeri atau panas saat berkemih, nyeri abdomen
4.      Sembelit, hemoroid
5.      Sakit kepala terus menerus, nyeri ulu hati, dan edema
6.      Lokia berbau busuk yang sangat banyak (lebih dari 2 pembalut dalam satu jam) dan dibarengi nyeri abdomen
7.      Puting susu pecah dan mammae bengkak
8.      Sulit menyusui
9.      Rabun senja
10.  Edema, sakit, danpanas pada tungkai
Sebagian besar kematian ibu terjadi selama masa pasca persalinan. Oleh karena itu, sangat penting bagi ibu dan keluarganya mengenal tanda bahaya dan perlu mencari pertolongan kesehatan. Beberapa gejala bahaya pada ibu nifas:
1.         Perdarahan pervagina yang luar biasa banyak atau tiba-tiba bertambah banyak (lebih banyak dari perdarahan haid biasa atau bilamemerlukan penggantian pembalut dua kali dalam setengah jam)
2.         Pengeluaran pervagina yang baunya menusuk
3.         Rasa sakit bagian bawah abdomen atau punggung
4.         Sakit kepala yang terus menerus, nyeri ulu hati, atau masalah penglihatan
5.         Pembengkakan diwajah atau tangan
6.         Demam, muntah, rasa sakit waktu buang air kecil, atau merasa tidak enak badan
7.         Payudara yang berubah merah, panas, dan rasa sakit
8.         Kehilangan nafsu makan dalam waktu yang lama
9.         Rasa sakit, merah, nyeri tekan, dan atau pembengkakan kaki
10.     Merasa sangat sedih atau tidak mampu  mengasuh sendiri bayinya atau diri sendiri
11.     Merasa sangat letih atau nafas terengah-engah
Kebutuhan dasar masa nifas:
1.      Nutrisi dan  cairan
2.      Ambulasi
Ambulasi sedini mungkin sangat dianjurkan, kecuali ada kontraindikasi, ambulasi ini akan meningkatkan sirkulasi dan mencegah resiko tromboflebitis, meningkatkan fungsi kerja peristaltic dan kandung kemih, sehingga mencegah distensi abdominal dan konstipasi.pada ambulasi pertama, sebaiknya ibu dibantu karena pada saat ini ibu merasa pusing ketika pertama kali bangun setelah melahirkan,.
3.      Eliminasi
Bidan harus mengobservasi adanya distensi abdomen dengan memalpasi dan mengauskultasi abdomen, terutama pada post-seksio sesaria. Berkemih harus terjadi dalam 4-8 jam pertama dan minimal sebanyak 200cc. anjurkan ibu untuk minum  banyak cairan dan ambulasi.
4.      Higinie
Sering membersihkan area perineum akan meningkatkan kenyamanan dan mencegah infeksi. Tindakan ini paling sering menggunakan air hangat yang dialirkan  (dapat di tambah larutan antiseptic) ke atas vulva perineum setelah berkemih atau dekfekasi, hindari penyemprotan langsung. Ajarkan ibu untuk membersihkan sendiri.
5.      Istirahat
Ibu nifas untuk istirahat dan tidur yang cukup. Instirahatt ini sangat penting untuk ibu yang menyusui. Tindakan rutin di rumah sakit hendaknya tidak mengganggu istirahat dan tidur ibu. Setelah selama 9 bulan ibu mengalami kehamilan dengan beban kandungan yang begitu berat banyak keadaan yang mengganggu lainnya, dan proses persalinan yang melelahkan, ibu membutuhkan istirahat yang cukup untuk memulihakan keadaannya.
6.      Seksualitas masa nifas
Seksualitas ibu dipengaruhi oleh derajat rupture perineum dan penurunan hormone steroid setelah persalinan.
7.      KB pada ibu menyusui
Salah satu usaha untuk mencapai kesejahteraan dengan jalan memberi nasehat perkawinan, pengobatan kemandulan, dan penjarangan kehamilan. KB merupakan salah satu usaha membantu keluarga atau individu merencanakan kehidupan berkeluarga dengan baik, sehingga dapat membentuk keluarga yang berkualitas.



                                           


BAB III
PENUTUP

A.    SIMPULAN
Kehamilan merupakan suatu proses alamiah dan fisiologis. Setiap wanita yang memiliki organ reproduksi sehat, yang telah mengalami menstruasi, dan melakukan hubungan seksual dengan seorang pria yang organ reproduksinya sehat sangat besar kemungkinannya akan mengalami kehamilan.
Persalinan dan kelahiran merupakan kejadian fisiologis yang normal dalam kehidupan. Kelahiran seorang bayi juga merupakan peristiwa social bagi ibu dan keluarga
Asuhan ibu nifas oleh bidan dilakukan dengan cara mengumpulkan data, menetapkan diagnosis dan rencana tindakan, serta melaksanakannya untuk mempercepat proses pemulihan dan mencegah komplikasi dengan memenuhi kebutuhan ibu dan bayi selama periode nifas.

B.     SARAN
Sebaiknya  tenaga kesehatan melakukan asuhan kebidanan dengan benar, hati- hati dan teliti. Ini dikarenakan kesalahan sedikit saja dapat menimbulkan dampak bagi ibu dan anak.



DAFTAR PUSTAKA

Estiwidani, Dwiana. 2008. Konsep Kebidanan.Yogyakarta: Fitramaya
Runjati, M.Mid. 2010. Asuhan Kebidanan Komunitas. Jakarta: EGC
Prawiroharjo, Sarwono. 2008. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar